RSS

Pages

Angel


Semakin dekat, semakin terasa sakit…
A N G E L
Siang ini sama seperti saat itu, langit yang menaungi Pontianak tak berawan berwarna biru tua, menemani mentari dan sinar teriknya. Tak ada awan mendung apalagi kilat, tapi tubuhku menggigil, detak jantungku terasa bagai guntur dan terlihat ada air hujan dimataku.
Entah sudah berapa lama waktu berlalu, tapi perasaan itu masih melekat seperti parasit seolah itu adalah kejadian yang baru saja kualami, membuatku terus merasakan pedih tanpa henti.
“Dwi??!”
Aku menoleh dan mendapati seorang gadis dengan rambut panjang berwarna kepirangan melambai dari atas motornya. Aku menyiripkan mataku, berusaha untuk mengenali sosok yang kini parkir tepat disebrang pagar rumahku.
“Masa lupa sama aku sih?” gadis itu membuka helm standarnya dan terlihatlah mata yang mengingatkanku pada warna madu yang bersinar di bawah hujan cahaya.
Mulutku ternganga seperti orang bodoh selama beberapa detik sebelum akhirnya mengucapkan sebuah nama. “ANGEL?!!”
Gadis itu tersenyum. “BTW, Kamu mau nyuruh aku nangkring di luar selamanya nih?”
Aku segera membuka pagar. “Ma, maaf. Ayo masuk dulu”
“Ngga ah, aku disini aja. Cuma bentar aja kok” jawabnya cepat tanpa berfikir. Memangnya siapa tadi yang protes dibiarin di luar? “Kebetulan lewat rumahmu dan kebetulan kamunya ada di luar, jadi aku mampir bentar aja untuk menyapa. Ah sudah waktunya nih!” Angel melirik jam tangannya dan kembali mengenakan helm standarnya. 


“Memangnya kamu mau kemana lagi Gel?” tanyaku bersamaan dengan berbunyinya mesin motor.
“Beli makan siang. ya udah, assalamuaaikum”
“wa alaikum salam”
Dan secepat datangnya, secepat itu pula dia pergi.
Aku menutup pagar dan berjalan masuk kerumah sambil memikirkan tentang teman yang tak pernah kujumpai hampir 5 tahun setelah kelulusan kami dari SMP.
Aku dan Angel tidak begitu akrab, kami cuma sempat sekelas di kelas satu dan tiga. Kelompok tempat kami bergabung juga berbeda, dan diatas segalanya sifat kami berbeda.
Aku memang tidak begitu mengenalnya, tapi aku cukup banyak dengar tentang dia. Si cewek gaul yang sebisa mungkin tidak ingin kudekati. Dia egois, keras kepala, moody dan licik atau mungkin cerdas. Sebatas itu yang kutahu dari orang-orang disekitarku.
Aku benar-benar tidak cocok dengan orang seperti itu, karena itulah kami tidak bisa dan tidak akan pernah jadi teman.
Lagipula...
Aku menjatuhkan tubuhku diatas ranjang. Kututup mataku yang mulai panas, menyemarakkan rasa perih di yang ingin membuatku menangis..
Lagipula, tidak ada yang namanya teman sejati.

2 minggu kemudian
“Asslamualaikum... IBU PERIIII!!”
Aku segera berlari keluar dari kamar menuju ke garasi, membukakan pintu bagi orang yang memanggil nama julukanku saat SMP. Cuma satu orang di dunia ini yang memanggilku dengan sebutan itu.
“Angel... kok ngga call dulu kalau mau datang?”
Angel hanya tersenyum lalu menggandeng tanganku. “Temenin aku makan dong”. Well... aku suka makan, apalagi gratisan, hanya saja hari ini aku malas keluar. Tapi bagaikan bereaksi dengan ajakannya perutku bernyanyi “Kruyuuuuk” hilanglah segala jenis alasan untuk menolaknya.
Dan kini aku telah berada di warung empek-empek, duduk berdampingan dengan Angel.
Semenjak pertemuan tak terduga dua minggu yang lalu, Angel semakin sering berkunjung ke rumahku. Lebih tepatnya menjadikan rumahku basecamp sembari menunggu waktu kursus. Dan tanpa sadar aku dan dia sudah jadi akrab seperti sekarang.
Pertama aku melihatnya setelah sekian lama, semua sifat buruknya langsung terlihat. Memang sejak kejadian itu, ibu peri positive thingking sudah tidur selamanya, yang tersisa hanya Dwi dan dunia hitamnya. Aku bahkan terus mencurigai semua kebaikannya, karena aku tak bisa lagi mempercayai ketulusan.
Tapi...
“Teman itu untuk dimanfaatkan. Benar kan?”
Dengan mulut berisi empek-empek Angel nyengir. Dia menyeruput teh esnya lalu menjawab “Aku lebih suka nyebut take and give. Tetap harus ada perhitungan dunk! Walo ngga selalu berbentuk materi. Kasih sayang itu kan take and give juga. Nah karena ibu peri udah makan, sekarang temenin aku jalan! Take and give. hehehe”
Tanpa sadar aku tersenyum. Aku suka sekali kejujuran, karena semenyakitkan apapun kejujuran lebih baik daripada kebohongan yang menyelamatkan. Karena ketulusan tidak akan menyisakan celah untuk kebohongan.
Ibu peri di dalam diriku mulai menggeliat.

 Pontianak, 17-02-07
pn: ditulis untuk memperingati ultah angel yang ke-20 first hal, bagian keduanya ditulis oleh angel...

0 komentar:

Posting Komentar