RSS

Pages

Betrayed


“Kamu ngga akan pernah mengerti”
BETRAYED

“Jauhi dia!” ucapku, entah untuk ke berapa puluh kalinya pada Rika. Gadis berparas Ayu dan berbibir tipis itu menekuk wajahnya.

“Tapi aku masih sayang sama dia… lagian aku ‘jalan’nya Cuma pas ndak ada Andi kok” matanyan menerawang, membayangkan wajah Andi, pacarnya dari SMA.

Aku menyipitkan mata, menatap matanya dalam-dalam. Dia mulai gelisah. “Sudahlah na, kamu ndak bakal ngerti” dia memalingkan wajahnya.

Aku baru saja akan membalas ucapannya ketika bel masuk kelas berbunyi. Rika mengambil tas lalu bergegas menuju kelas. Sementara aku hanya duduk di meja bundar dengan dibanjiri tatapan simpati dari teman-teman sesama guru PPL.

Disinilah aku sekarang. Terjebak dalam sebuah sekolah, magang sebagai guru PPL bersama 11 orang lainnya. Mengajar kelas IPS yang luar biasa bandelnya, jadi stress, dan bersusah payah pada masalah orang lain. Masalah Rina Septiana.

Kalian jangan salah paham, aku bukan pacar Rina. Karena aku sendiri perempuan, namaku Nana. Lebih tepatnya orang-orang memanggilku nana walau dalam akte kelahiranku tak ada tertulis Nana. Dan aku bukanlah sahabat karib Rina. Sama sekali bukan. Kami hanya teman sekelas yang kebetulan terperangkap sebagai Guru PPL Matematika di  SMA 17.
Lalu kenapa aku ikut campur dalam urusannya?

Karena aku benci penghianatan.

Aku sangat membenci penghianatan.

Dan aku tahu Rina bukanlah orang jahat yang sedemikian mudahnya menyakiti hati orang dengan sengaja. Dan dia menganggap ‘jalan’ dengan seorang senior sementara pacarnya bekerja di luar kota adalah hal yang biasa. Bukan kejahatan.

“Selama Andi ndak tahu, ndak masalah kan? Lagipula dia kan PNS di kota lain. Aku Cuma bisa ketemu 2 kali sebulan. Ndak salah kan kalau disini jalan sama cowok lain?” ucap Rina kemarin ketika kami makan di kantin sekolah yang lenggang.

“Tapi dia tahu! Dia sudah curiga. Dan dia itu berniat serius dengan kamu. Kita ini bukan remaja lagi yang pacaran hanya untuk mengisi waktu luang” ucapku ketus. “Kalau begitu tak apa kan kalau Andi jalan bareng cewek lain selama kau ngga tahu?”

Dwi terbelalak lalu tertawa. “Ngga mungkin lah! Aku kenal Andi udah hampir 5 tahun. Dia itu tipe yang hanya bisa berhubungan dengan 1 cewek. Mukanya itu jujur banget, kalau macam-macam pasti ketahuan. Lagipula ibunya pasti ngadu ke ibuku kalau ada apa-apa”

Aku memperhatikan Rina yang tertawa. Dia anak yang baik, sungguh. Pejuang keras yang berbakti pada orang tua. Dan dia membuatku berdecak kagum dengan prestasinya di kampus. Sebagai teman, dia hampir sempurna (kecuali sifat GR, pelupa dan ketidak konsistenannya). Tapi ketika masalah hati dan cinta memuncak…

“Lalu kenapa kau menghianati Andi?” tanyaku, membuat tawanya berhenti seketika.

“Aku ndak menghianatinya” Rina meneguk tehnya dan balas menatapku. “Kamu ndak akan ngerti Na”
Ya, kata-kata itu pasti akan membuat pembicaraan kami berakhir.

Memang… aku tidak mengerti. Sebagaimana dia tidak mengerti rasanya dikhianati.

Entah berapa puluh alasan dia lontarkan untuk kebersamaannya dengan sang senior. Tidak ada kendaraaan, sementara aku yang rumahnya searah tak pernah keberatan memberi tumpangan. Menginstal komputer. Yah, instal sampai lebih dari 2 bulan, walau 100 meter dari rumahnya ada servis komputer. Dan berbagai alasan lain.

Memang beberapa diantaranya tak terbantahkan dan 7 kali lipatnya hanya bagai alasan angin lalu tak berarti.
Alasan, Alasan, Alasan. Hanya itu yang bisa di lontarkan oleh mereka yang melakukan kejahatan. Mereka yang melakukan penghianatan.

Berkebalikan dengan cinta dan kebaikan yang sama sekali tidak butuh alasan.

“TENG TENG” bel pergantian pelajaran. Aku bangkit dari kursiku dengan malas dan melangkah keluar ruang BP yang kini diubah jadi ruang guru PPL.

“Nana…” aku menoleh dan mendapati Rida yang memanggil namaku. Wajahnya yang putih dengan kerudung pink memberikan senyum kepadaku. “Semangat!”

Aku membalas senyumnya lalu mengacungkan tinju ke udara. “GANBATTE YO!!”

Yah, mungkin sudah saatnya aku meninggalkan masa lalu.

Walau aku tahu tak semudah itu menghilangkan luka penghianatan. Sebagaimana sulit bagiku memaafkan dia yang sudah berlutut dan memintaku untuk kembali.

HP ku bergetar. Aku melihat di LCD-nya. “MaNtAn” aku mengangkat telponnya dan mengatakan yang sudah seharusnya kukatakan dari dulu. “BYE BYE”

“Aku memang tidak mengerti. Dan aku tidak ingin mengerti, bila mengerti itu berarti menghianati.”

September 2007
a/n: ditemukan secara tidak sengaja di buku catatan, sketsa cerita setengah jadi yang ngga jelas banget. Inspired by true story

0 komentar:

Posting Komentar